Adat
Istana Maimoon dan Masjid Al- Mashun
2008-08-29
Wisata kali ini kita berkunjung ke kota Medan ibukota propinsi Sumatera Utara, disana terdapat cagar budaya peninggalan kerajaan Deli yaitu Istana maimoon, Istana ini dikenal dengan nama Istana Sultan Deli di bangun pada masa ke sultanan Ma'maun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah tepatnya 26 Agustus 1888 dengan arsitektur Belanda Captian TH Van Ert. Dengan luas bangunan 2.270 m2. Menurut sejarah di Sumatra Utara dulu ada dua kerajaan atau kesultanan Melayu, yaitu kesultanan deli dan kesultanan serdang. Kesultanan Deli adalah yang pertama berdiri, dan kemudian terjadi konflik internal antara keluarga raja dalam kesultanan Deli, akhirnya muncul kesultanan baru yaitu Serdang dan langsung memisahkan diri dari kesultanan Deli. Bila jalan-jalan kesana kita akan menjumpai sebuah mesjid di bagian yang berbeda dari kompleks Istana Maimoon ini, mesjid itu bernama Mesjid Raya Al-Mashun. Pembangunannya di mulai pada 21 Agustus 1906, selesai dan di buka untuk umum pada 10 September 1909 M. diperkirakan biaya pembangunan mesjid mencapai satu juta gulden yang seluruhnya ditanggung oleh sultan Ma'mun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX. Sultan Ma'mun berperinsip bahwa kemegahan masjid lebih utama daripada istananya sendiri, maka mesjid itu dibangun sangat megah karena merupakan mesjid kerajaan.
Bangunan mesjid ini terdiri dari tiga ruangan yaitu : ruang utama, tempat wudhu dan gerbang masuk. Ruang utama sebagai tempat sholat, bentuknya persegi delapan tidak sama si si. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat porch, yaitu unit yang menempel dan menjorok keluar. Terdapat tangga di tiaptiap porch, sisi kiri dan kanan ruang sholat utama dikelilingi oleh gang yang mempunyai deretan jendela tak berdaun berbentuk plengkung. Kolomkolom tersebut menyangga plengkung yang bentuk dan hiasanya bercorak Moorish dan Arabesque. Diatas plengkung tersebut terdapat tambour (dinding tumpuan kubah) untuk tumpuan kubah utama. Bentuk kubah mengikuti model Turki, bentuknya patah-patah bersegi delapan. Kubah utama tersebut mengatapi mihrab dan mimbar. Dinding tumpuan kubah (tambour); ·terdapat jendela atas sehingga ruang sholat . utama cukup mendapat cahaya. Dan di depan mesjid tersebut terdapat kolam Raja. Ada tiga sebutan populer untuk mesjid yaitu : Masjid al-Mashun, Mesjid Deli dan Masjid Agung Medan.
Bangunan indah Istana Maimoon berdiri di atas 82 pilar batu dan 82 pilar kayu. Didesain dengan gaya India Islam (Moghul) dan Eropa. Bagian atapnya berbentuk kubah di cat hitam, dinding berwarna kuning sebagai symbol warna kebesaran etnis melayu. Langit-langit gedung berbentuk kubus, dan keindahan pagarnya berbentuk tringgalum. Tempat singasana Raja yaitu Balairung Sri berfungsi sebagai ruang pertemuan di desain dengan bentuk kubus gaya India Islam. Lantainya terbuat dari ubin bermotif flora serta dindingnya di hiasi beraneka ukiran. Di . Balairung masih terdapat Singasana Raja yaitu kursi kehormatan raja. Kursi tersebut terbuat dari kayu berukiran indah dan ada kipas besar. berguna untuk mengipas raja. Di dinding masih terlihat potret keluarga kesultanan Deli. Dilantai bawahnya terdapat kolong berfungsi sebagai penjara tempat para pelanggar hukum kerajaan menjalani masa tahanannya.
Di sisi kanan Istana Maimoon terdapat pavilion terbuka bergaya Rumah Adat Karo yang di dalamnya berisi Meriam Puntung. Pernah mendengar cerita legenda putri Hijau pahlawan wanita kesultanan Deli? Konon ceritanya Sultan Aceh dari kerajaan samudra pase berniat menjadikan Putri Hijau yang cantik jelita sebagai permaisuri, maka pihak kerajaan mengutus seseorang untuk meminang sang putri. Malang tak dapat ditolak, cinta tak dapat diraih pinangan itu ditolak. Mengetahui penolakan tersebut Sultan Aceh murka dan kerajaan Samudra Pase menyerang kesultanan Deli. Putri hijau di culik dan akan di bawa ke Aceh, dalam perjalanan dua saudara putri Hijau menjelma menjadi Naga lalu memporak porandakan kapal musuh. Putri Hijau selamat namun meriam menjadi puntung akibat peperangan terse but.